Rock and roll from the red and white : Deddy stanzah

Ketemu lagi di blog saya , gimana kabar kawan rock and roll seantero jagad raya ? mudah-mudahan masih terus jadi rock and roller dah.Sekarang ada waktu posting lagi nih.
masih di bumi rock and roll made in indonesia. kalo di inggris ada sir Mick jangger dari The Rolling stones nah kalo di indonesia ada Deedy stanzah.nih ada sedikit biogarfinya brur.sambil nunggu lagunya mending baca biografinya biar ga gelap banget.



Deddy Stanzah atau Dedi Soetansjah dilahirkan 14 April 1949 dan menghembuskan nafas yang terakhir Senin, 22 Januari 2001. Penyanyi musik Rock ini meninggal dunia pada saat usiannya menginjak 51 tahun Selama masa hidupnya, Deddy tetap bersikukuh dan konsisten dengan jenis musik rock dan seolah mengalir di denyut nadinya. Pada 40 tahun silam dia bersama Delly Djoko, Tengku Zulfian, Iskandar Madian dan Iwan Krisnawan membentuk The Rollies, yang beraliran Rock n’roll berkiblat The Beatles, The Beegees, The Hollies dan The Rolling Stones. Penyandang dana pada saat itu adalah ayahnya Deddy yang mempunyai usaha perhotelan.di Kota Bandung dan sang ayah bahkan yang menyediakan seperangkat alat band lengkap untuk eksistenisi band anaknya.
Di tahun 1969, The Rollies yang sering main di klab malam Singapura, juga merilis album mereka di perusahaan Philips yaitu Album The Rollies dan album Halo Bandung.
Deddy Stanzah bersama The Rollies menghasilkan 5 album dan tiga album di antaranya direkam oleh Remaco dan Purnama Record. Deddy dikeluarkan oleh anggota The Rollies lainnya Karena ketergantungan dengan narkotika. Setelah lepas dari The Rollies Deddy gabung bersama God Bless untuk menggantikan Donny Gagola sebagai pemain bass karena Donny mengisi pemain gitar yang ditinggalkan Ludwig LeMans. Deddy hanya bertahan bersama God Bless hanya 4 bulan karena masalah kedisiplinan.
Setelah meninggalkan God Bless dia membentuk kelompok Tripod bersama gitaris Chris Manuel Manusama dan Yaya Moekito, band ini cukup potensial tapi sayang tidak bertahan lama.

Pada tahun 1976, Deddy bersama Jelly Tobing dan Deddy Dorres membentuk Superkid yang beraliran rock atas gagasan wartawan musik, Denny Sabri.
Superkid merilis 6 album selama 11 tahun dari tahun 1977 sampai tahun 1988, inilah grup yang didukung Deddy Stanzah paling lama. Selain bersama kelompoknya dia juga bersolo karier dimana pada tahun 1976, ia merilis album solo perdananya bertajuk Play It Out Loud. Album solo Deddy banyak dipuji karena kualitas musiknya, wajar saja karena album ini didukung sederet musisi hebat seperti Albert Warnerin, Triawan Munaf, hingga mendiang Harry Roesli.

Di tahun 1977, Deddy Stanzah merilis album Gadis Dalam Rock dengan musisi pendukung Yaya Moektiyo (drums), Harry Minggoes (bass) dan Agus (gitar). Dan tahun 1979 mengeluarkan album Pelangi yang didukung ileh musisi Dodo Zakaria (keyboard), Oppop (drums), dan Emmand Saleh (gitar). Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors 1979 mengangkat nama Deddy Stanzah semakin dikenal dengan Lagu Sepercik Air dan Masa Depan di Tanganmu. Tahun 1987 dia merilis single Aku Kembali yang digarap Ian Antono God Bless dan banyak single-single yang lain.


Masa-masa terakhir hidupnya Deddy dihingggapi berbagai penyakit diantaranya jantung, paru-paru basah. Dia sempat dirawat di sebuah rumah sakit di Bandung selama seminggu, tapi dia memilih berobat jalan.Meskipun dalam keadaan sakit dia ia masih tampil di panggung, dan menyelesaikan album terakhirnya berjudul Paradox. Deddy meninggalkan istrinya Isye Larisdia dengan dua anaknya Ega Pintudana dan Putri Mentari.

waw ....cukup penasaran kan buat mau dengerin lagu mick jaggernya indonesia, ni ada album the bestnya .lumayan buat koleksi . sambil mengenang beliau .



THE BEST OF DEDDY SATANZAH klik aja disini

1 komentar:

Skullator mengatakan...

Bagus sekali ulasannya, saya juga coba mereview Deddy Stanzah album Play It Loud, album Paradox serta lirik-lirik lagunya.
https://www.skullator.com/2020/08/deddy-stanzah-album-play-it-loud.html